Monday, September 16, 2013

Episode Dokter Obsgynku (Part Two)

Ketika aku dan suamiku memutuskan untuk mencari pertolongan waktu itu, dan kemudian terpilih dokter obsgyn, kami masih dihadapkan pada satu kebingungan, tentang siapa dan dimana? Akhirnya setelah beberapa waktu tanya sana tanya sini, cari info kanan info ke kiri, aku dan suamiku memutuskan untuk memilih dokter Retno, satu-satunya dokter kandungan perempuan terdekat, di PKU Muhammadiyah Bantul, karena pada waktu itu aku pikir akan lebih mudah sharing tentang masalah seperti ini dengan sesama perempuan.

Lalu pergilah kami ke PKU Bantul untuk menemui Dr Retno. Kunjungan pertama terus terang aku sangat tegang, deg degan, akan seperti apa nantinya. 

Kami datang, ke pendaftaran, karena belum pernah ke PKU, aku dibuatkan kartu baru, dan diberi nomor antrian, kertas warna pink ^^. Lalu kami disuruh masuk ke poliklinik. Nunggu giliran.

Kesan pertama, wah, banyak ibu-ibu hamil, banyak anak-anak kecil, senyum kecil kukulum. Kesan kedua, antrinya panjang, ternyata banyak pasiennya. Pikirku kemungkinan mereka juga berpikiran sama denganku, dokter perempuan. Senyum kedua kukulum.

Ketika datang pertama kali waktu itu aku masih bingung, dan aku sangat yakin pasti terlihat di mukaku :). Tapi pengamatanku dan sedikit (banyak ding, hehe) tanya ke kiri kanan sesama pasien memberitahuku : kalo dateng lapor ke perawat lalu tensi. Oke itu ku lakukan. Pengamatan selanjutnya, yang sampe giliran periksa, begitu masuk ruangan dokter si kertas pink dicenthelkan di centhelan di samping ruang periksa. Oke, itu pun kulakukan.

Akhirnya, sampai lah jatahku. Namaku dipanggil. Aku dan suamiku masuk, dengan agak lumayan grogi tentunya, yg bagiku adalah hal biasa karena aku hampir selalu grogi menghadapi pengalaman pertama :D. Sampai di dalam kesan pertamaku : ow, perempuan semua, dokternya perempuan, perawatnya perempuan semua. Kesan kedua : brrrrr, duingin euy, AC. Padahal aku ga gitu suka ruangan ber-AC, maklum wong ndeso, lebih seneng semilir angin, heheh.

Di dalam aku sampaikan keluhan-keluhanku, seingatnya aku, karena itu tadi, penyakit grogi di pengalaman pertama :D. Aku lalu diminta tiduran, mau di USG, yang dari luar perut. Katanya rahimku baik-baik saja. Lalu aku cerita tentang mensku yang ga teratur dan hampir selalu sakit. Katanya memang ada sedikit selaput endometrium, tapi katanya lagi, ndak apa apa. Kembali ke kursi. Karena pernikahan kami belum genap setahun jadi belum bisa dianggap infertilitas primer. Aku waktu itu hanya diresepkan Folavit, dan kalau setelah setahun belum juga hamil disuruh kembali lagi.

Aku dan suamiku lalu keluar ruang periksa, ngurus administrasi. Ke obat dulu, lalu ke kasir bayar tagihan, kesanku : wah, lumayan nih kalo sering gini, heheh. Kasir beres, kembali ke obat, ngantri lagi.

Obat di tangan. Keluar ke parkiran. Pulang, dengan hati agak sedikit berharap sedikit jalan terang :)


Episode Dokter Obsgyn ku

Ceritanya pengen nulis pengalaman akhir-akhir ini, tapi bingung gimana mulainya, tangan dah kaku ngrangkai huruf, heheh, maklum dah lama banget gak nulis lagi. Hmm, tapi coba lah.

Seperti normalnya pasangan yang sudah menikah, anak adalah sesuatu yang dinantikan. Begitu pula dengan aku dan suamiku, kami pun menantikannya. Walaupun terkadang timbul secercah rasa takut dan khawatir di sudut hati ini, akan seperti apa rasanya menjadi orang tua, seberapa banyakkah hidupku akan berubah, bisakah aku jadi orang tua yang baik, bisakah mendidik anak dengan baik, dan bisakah bisakah yang lain.

Setiap akhir bulan, selalu harap-harap cemas menanti datangnya satu kepastian, dan setiap bulan itu pula hanya kekecewaan yang terus menerus datang. Akhirnya ketika usia pernikahan kami menginjak sembilan bulan, kami memutuskan untuk mencari bantuan. Dokter obsgyn jadi pilihan kami. Dan dimulailah petualangan dokter obsgynku....